Fakta Malam 1 Suro dan Muharram: Dari Kalender Sultan Agung hingga Puasa Asyura

Widaningsih
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Foto/Ilustrrasi/istimewa

Keutamaan Puasa Asyura

Salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram adalah puasa Asyura pada 10 Muharram.

Rasulullah SAW pernah mencontohkan ibadah tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari:

"Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari ‘Asyuro, beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Jawab mereka, ‘Hari ini hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, karena itu Musa mempuasainya.’ Sabda Nabi SAW, ‘Aku lebih berhak daripadamu dengan Musa.’ Karena itu Nabi SAW mempuasainya dan menyuruh mempuasainya.” (HR Al-Bukhari).

Karena keutamaannya tersebut, banyak pesantren yang mengajak para santri menjalankan puasa Asyura sebagai bentuk meneladani Rasulullah SAW.

Bubur Merah Putih dan Makna Filosofinya

Tradisi Suronan di pesantren juga identik dengan penyajian bubur merah dan bubur putih.

Bubur merah yang manis berasal dari gula merah, sedangkan bubur putih memiliki cita rasa gurih. Kedua warna tersebut melambangkan dualitas kehidupan yang selalu berdampingan, seperti siang dan malam, laki-laki dan perempuan, serta kebaikan dan keburukan.

Dalam tradisi Jawa, bulan Suro juga sering dikaitkan dengan perenungan spiritual dan pengendalian diri agar manusia mampu memilih jalan kebaikan dalam kehidupannya.

Tradisi Malam 1 Suro di Masyarakat Jawa

Sebagian masyarakat Jawa masih memaknai Malam 1 Suro sebagai momentum spiritual yang penting. Berbagai ritual tirakat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Beberapa di antaranya adalah patigeni, yakni laku tapa dengan tidak tidur dan tidak makan selama kurun waktu tertentu. Ada pula tradisi kungkum atau berendam di sungai dan sumber mata air yang dianggap memiliki nilai spiritual.

Selain itu, pemilik benda pusaka seperti keris dan benda warisan leluhur biasanya melakukan ritual pembersihan atau jamasan pusaka pada malam tersebut.

Meski demikian, para ulama mengingatkan agar umat Islam tetap menjadikan bulan Muharram sebagai momentum memperbanyak ibadah, doa, dzikir, sedekah, dan puasa sunnah sesuai tuntunan syariat Islam.

Editor : Wahab Firmansyah

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network