BEKASI, iNewsBekasi.id- Kebocoran dalam proyek Horizontal Directional Drilling (HDD) pipa Pertamina jalur Cikampek-Pelumpang membuat lumpur masuk ke rumah warga di Desa Telagamurni, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Rabu (9/9/2026).
Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Lumpur yang berasal dari proses pengeboran mengalir ke sejumlah pekarangan rumah warga hingga membuat lingkungan becek dan mengganggu akses jalan.
Warga RT 03/RW 01, Fery (44), mengatakan material yang keluar bukan gas, melainkan lumpur dari proses pengeboran. Menurutnya, proyek tersebut tengah memasuki tahap akhir penarikan atau pemasangan pipa.
“Nyembur perlahan-lahan. Katanya pekerjaan sudah mau fullback atau pemasangan pipa terakhir. Intinya tekanan di dalam itu kuat,” kata Fery pada Rabu (9/9/2026).
Fery memperkirakan sedikitnya belasan rumah terdampak akibat kejadian tersebut. Selain mengotori pekarangan, lumpur juga menggenangi dan mengotori jalan lingkungan yang biasa digunakan warga untuk beraktivitas.
Kondisi tersebut sempat memicu ketegangan antara warga dan pihak proyek. Warga mempertanyakan penanganan dampak pekerjaan serta persoalan kompensasi bagi rumah yang terdampak lumpur.
Fery mengatakan kekhawatiran warga juga muncul karena proyek pipa gas tersebut berada di kawasan yang cukup padat penduduk. Warga berharap pekerjaan proyek tetap memperhatikan keselamatan dan kondisi lingkungan sekitar.
Keluhan serupa disampaikan Hj Enja (60). Ia mengaku kejadian lumpur akibat pekerjaan proyek tersebut bukan kali pertama terjadi. Bahkan, dirinya pernah melihat langsung material bercampur air masuk ke rumah.
“Saya pernah lihat langsung pas bocor. Air masuk ke rumah, mereka langsung bendungin,” ujar Enja.
Menurut Enja, kondisi tersebut membuatnya harus berulang kali membersihkan rumah. Pada Rabu (9/9/2026), ia mengaku sudah dua kali membersihkan lumpur dan air yang masuk ke rumahnya.
Sementara itu, pihak pelaksana proyek melalui PT Mulia Tehnik Toolsindo mengaku mulai mendata rumah warga yang terdampak. Data tersebut nantinya menjadi dasar pengajuan kompensasi.
Fikri, Humas PT Mulia Tehnik Toolsindo selaku subkontraktor, mengatakan mandor di lapangan telah diminta mendata seluruh rumah yang terdampak. “Biar dapat kompensasi. Nanti saya lagi mengajukan kompensasi,” kata Fikri.
Menurut Fikri, keluarnya lumpur ke arah permukiman diduga dipengaruhi kondisi kontur tanah yang lebih rendah. Sebelumnya, proses penarikan pipa dilakukan pada malam hari.
Saat ini, pihak proyek memprioritaskan pembersihan lumpur yang masuk ke kawasan permukiman. Area terdampak, termasuk infrastruktur milik warga, disebut akan dikembalikan seperti semula. “Semua yang terdampak dari proyek ini tetap kita perbaiki,” ujarnya.
Pihak pelaksana memastikan pekerjaan proyek tidak dihentikan dan saat ini fokus menangani dampak yang terjadi di lapangan.
Untuk mempercepat proses pembersihan, pihak proyek menyiapkan mobil dam untuk mengangkut lumpur dari area permukiman warga.
Warga berharap penanganan tidak hanya sebatas membersihkan lumpur, tetapi juga memastikan seluruh kerusakan akibat proyek diperbaiki serta kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
