Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Rapat Perdana, Dewan Etik PKS Kabupaten Bekasi Optimistis Tak Ada Lagi Pelanggaran Etika Kader
Advertisement . Scroll to see content

Kritik Label Halal Baru, PKS: Sulit Dikenali, Warna Ungu Tidak Relevan Unsur Keislaman

Senin, 14 Maret 2022 | 17:11 WIB
  • author Carlos Roy Fajarta
Kritik Label Halal Baru, PKS: Sulit Dikenali, Warna Ungu Tidak Relevan Unsur Keislaman
BPJH Kementerian Agama merilis label halal baru yang bertahap bakal menggantikan label halal MUI di kemasan sebuah produk. (Foto: DOK.KEMENAG)

JAKARTA, iNews.id - Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama merilis label halal baru yang bertahap bakal menggantikan label halal MUI di kemasan produk. Tetapi, label halal baru dinilai sulit dikenali konsumen.

Anggota Komisi VIII DPR Bukhori Yusuf mengungkapkan beberapa kelemahan label halal baru dan berisiko merugikan konsumen umat Islam. Menurutnya, tingkat keterbacaan (readibility) kaligrafi 'halal' dalam label baru kurang memadai, sehingga sulit dikenali oleh konsumen produk halal. Padahal, dalam setiap label halal, elemen yang paling signifikan untuk diperhatikan agar membuat konsumen mudah dan cepat mengidentifikasi produk adalah elemen kata halal.

"Kendati otoritas penerbit sertifikat halal di setiap negara di dunia memiliki karakteristiknya masing-masing, khususnya pada bagian label, namun ada ciri khas yang sama antara satu dengan yang lainnya, yakni penekanan pada unsur islami yang tercermin dari penggunaan kaligrafi halal," kata Bukhori Yusuf, Senin (14/3/2022).

Menurut polikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, mayoritas label halal di dunia menggunakan kaligrafi atau khat Kufi dan Nasakh sebagai ciri khasnya. Sedangkan, secara bentuk ornamen, hampir 80% label halal di dunia berbentuk melingkar yang secara filosofis bermakna siklus hidup manusia. 

Dengan ciri khas tersebut, maka ada semacam kesatuan tema dari label halal di seluruh dunia supaya produk halal mudah dikenali oleh umat Islam di seluruh dunia, khususnya bagi mereka yang kerap melakukan mobilitas lintas negara. "Esensi dari label adalah menyederhanakan. Idealnya, maksimal dalam dua detik konsumen sudah dapat mengidentifikasi produk tersebut," katanya.

Pemilihan warna ungu pada label halal yang baru tidak mencerminkan citra keislaman dan malah memberikan efek psikologis yang buruk bagi konsumen. 

"Pemilihan warna ungu tidak relevan unsur keislaman. Pasalnya, mayoritas label halal di berbagai negara di dunia menggunakan unsur hijau sebagai salah satu paduan warnanya. Sebab, warna hijau identik dengan identitas Islam dan muslim. Sebagai contoh, warna bendera sejumlah negara muslim seperti Arab Saudi, Palestina, dan Pakistan, di mana warna hijau menjadi salah satu unsur paduan warnanya. Hal itu bisa dipahami mengingat, secara historis, penggunaan warna hijau tidak lepas dari anggapan bahwa warna tersebut adalah warna yang paling disukai Nabi Muhammad SAW," kata Bukhori Yusuf.

 

Editor: Eka Dian Syahputra

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut