get app
inews
Aa Text
Read Next : Biaya Proyek Tol Cikunir Karawaci Rp37 Triliun, Ubah Wajah Transportasi Jabodetabek

Daging Sapi Mahal, Pedagang Kompak Mogok Jualan 3 Hari di Jabodetabek

Rabu, 21 Januari 2026 | 22:06 WIB
header img
Ketua Umum Papmiso Indonesia, Bambang Hariyanto. Foto/Istimewa

JAKARTA, iNewsBekasi.id- Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) DKI Jakarta resmi mengumumkan aksi mogok berjualan daging sapi di seluruh pasar tradisional dan Rumah Potong Hewan (RPH) se-Jabodetabek selama tiga hari. Aksi tersebut berlangsung mulai Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026).

Kebijakan mogok jualan ini tertuang dalam Surat Nomor 175/PABB-APDI/I/2026 tentang Aksi Berhenti Berjualan Seluruh Pasar dan RPH Se-Jabodetabek. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas melonjaknya harga sapi hidup di tingkat feedloter yang berdampak langsung pada kenaikan harga daging sapi di pasaran.

DPD APDI menilai hingga saat ini belum ada kepastian maupun jaminan stabilitas harga dari pemerintah. Kondisi ini membuat pedagang daging sapi eceran semakin tertekan karena harga jual tinggi tidak sebanding dengan daya beli masyarakat yang terus melemah.

Ketua APDI Kabupaten Bekasi, Sadimin, menyebutkan aksi mogok berjualan dilakukan sesuai arahan pengurus pusat. Seluruh pedagang daging sapi di wilayah Jakarta dan Bekasi akan menghentikan aktivitas jual beli selama tiga hari sebagai bentuk penyampaian aspirasi kepada pemerintah.

“Iya, aksi mogok tidak berjualan. Untuk Jakarta dan Bekasi selama tiga hari tidak berjualan supaya pemerintah mengetahui kondisi di lapangan. Kalau tidak ada terobosan dari pemerintah, kemungkinan aksi bisa berlanjut,” ujar Sadimin.

Sadimin menjelaskan, harga sapi hidup saat ini telah mencapai sekitar Rp55 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut membuat harga jual daging sapi di tingkat pedagang eceran melonjak hingga menembus Rp150 ribu per kilogram.

“Sapi hidupnya sudah Rp55 ribu per kilo. Artinya harga jual daging harus di atas Rp140 ribu sampai Rp150 ribu per kilo. Kalau di bawah itu, pedagang pasti rugi,” jelasnya.

Ia menambahkan, mahalnya harga daging sapi berdampak signifikan terhadap menurunnya daya beli masyarakat. Padahal, harga normal daging sapi sebelumnya berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret dan bersikap tegas dalam mengendalikan harga daging sapi agar kembali stabil dan terjangkau bagi masyarakat.

Di sisi lain, aksi mogok jualan ini dinilai berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang luas, terutama bagi sekitar 20 ribu pedagang bakso di wilayah Jabodetabek. Mereka terancam kesulitan memperoleh bahan baku utama untuk produksi.

“Jika aksi mogok ini berlangsung selama tiga hari, potensi kerugian perputaran uang bisnis bakso bisa mencapai Rp 20 miliar per hari,” ujar Ketua Umum Papmiso Indonesia, Bambang Hariyanto, di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Rabu (21/1/2026).

Papmiso Indonesia juga mengingatkan kembali komitmen Presiden Prabowo Subianto saat kampanye Pilpres 2024 di Restoran Bandar Djakarta, Summarecon Bekasi. Saat itu, Presiden Prabowo berjanji akan membenahi tata kelola niaga daging sapi serta menjaga stabilitas harga agar pelaku usaha kecil, termasuk pedagang bakso, dapat memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau.

Untuk itu, Papmiso Indonesia mendesak pemerintah segera mengambil langkah responsif dan preventif guna mencegah meluasnya aksi mogok jualan pedagang daging sapi di Jabodetabek.

“Kami berharap pemerintah segera membenahi tata kelola niaga daging sapi dan menjaga stabilitas harga, sehingga masyarakat kecil tetap mampu membeli daging sapi dengan harga terjangkau,” tegas Bambang.

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut