get app
inews
Aa Text
Read Next : Seperti Sri Lanka, Ini Daftar Sembilan Negara yang Terancam Bangkrut

Ketimpangan Ekonomi dan Krisis Iklim Dinilai Berakar dari Struktur Ekonomi yang Sama

Senin, 04 Mei 2026 | 18:58 WIB
header img
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir. Foto/Ilustrasi/Istimewa

Peneliti Senior Transisi Bersih, Sisdjiatmo K. Widhaningrat, menegaskan ketimpangan ekstrem saat ini bukan disebabkan kegagalan pertumbuhan ekonomi, melainkan distribusi hasil pertumbuhan yang tidak merata.

“Ketimpangan ekstrem yang kita lihat hari ini bukan terjadi karena ekonomi gagal tumbuh, tetapi karena hasil pertumbuhan dibiarkan terkonsentrasi pada segelintir kelompok,” ujarnya.

Sebagai solusi, Transisi Bersih mendorong enam agenda transformasi ekonomi yang dinilai lebih adil, produktif, dan berkelanjutan.

Pertama, penerapan pajak kekayaan progresif terhadap kelompok superkaya untuk membiayai layanan publik, perlindungan sosial, dan investasi transisi energi berkeadilan.

"Pajak kekayaan perlu diterapkan pada kelompok superkaya sebagai instrumen koreksi ketimpangan ekstrem, dengan alokasi yang jelas untuk pembiayaan layanan publik, perlindungan sosial, dan investasi dalam transisi energi berkeadilan," kata Rahman.

Kedua, mengubah orientasi ekonomi dari model ekstraktif menuju ekonomi produktif berbasis industri bernilai tambah tinggi.

Ketiga, merevitalisasi sektor manufaktur agar mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan upah pekerja, serta memperluas kelas menengah.

Keempat, meningkatkan produktivitas nasional melalui investasi pendidikan, penguatan riset dan inovasi, serta pembangunan infrastruktur ekonomi yang merata.

Kelima, mempercepat transisi energi yang terintegrasi dengan strategi industrialisasi nasional agar mampu menurunkan emisi sekaligus membuka peluang industri baru.

Keenam, melakukan reformasi tata kelola ekonomi dan politik melalui transparansi kekayaan, pencegahan konflik kepentingan, serta reformasi pembiayaan politik.

Rahman menegaskan Indonesia masih memiliki peluang keluar dari jebakan ketimpangan ekonomi dan ketergantungan pada sektor ekstraktif, asalkan ada keberanian politik untuk melakukan perubahan fundamental.

"Namun, tanpa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi dan politik, pertumbuhan hanya akan memperbesar kesenjangan yang sudah ekstrem saat ini. Hanya dengan arah kebijakan yang tepat dan berani, Indonesia dapat membangun ekonomi yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan," ucapnya.

 

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut