Jenazah Ditolak Bumi hingga Diterkam Singa, Ini 3 Kisah Penista Agama di Zaman Nabi
AKARTA, iNewsBekasi.id – Penistaan terhadap ayat-ayat Al-Qur'an merupakan persoalan serius dalam ajaran Islam. Dalam sejumlah riwayat dan literatur keislaman, terdapat kisah orang-orang yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW atau berdusta terkait wahyu, yang kemudian mengalami akhir kehidupan tragis.
Bagaimana kisahnya? Berikut tiga cerita yang disebut dalam hadis dan kitab tafsir.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari jalur Anas bin Malik, disebutkan kisah seorang laki-laki dari Bani Najjar yang pernah membaca surah Al-Baqarah dan Ali Imran serta menjadi penulis wahyu untuk Rasulullah SAW.
Namun, laki-laki tersebut kemudian melarikan diri dan bergabung dengan Ahli Kitab. Mereka memujinya dan mengatakan bahwa orang tersebut pernah menjadi penulis wahyu bagi Nabi Muhammad SAW.
Tidak lama kemudian, Allah SWT menimpakan bencana kepadanya hingga meninggal dunia.
Mereka kemudian menggali kuburan dan menguburkan jasadnya. Namun, keesokan harinya bumi memuntahkan jasad tersebut ke permukaan.
Mereka kembali menggali kuburan dan menguburkannya. Akan tetapi, pada hari berikutnya jasad tersebut kembali dimuntahkan oleh bumi. Peristiwa itu berulang hingga akhirnya mereka membiarkan jasad tersebut tergeletak.
Dalam hadis tersebut disebutkan:
"Di antara kami ada seorang laki-laki dari Bani Najjar yang telah membaca surah al- Baqarah dan surat Ali Imran dan dia seorang penulis wahyu untuk Rasulullah SAW. Kemudian, dia pergi melarikan diri dan bergabung bersama Ahli Kitab yang menyanjungnya. Mereka berkata, 'Orang ini pernah menjadi penulis wahyu bagi Muhammad', sehingga mereka pun mengaguminya. Tidak beberapa lama kemudian Allah menimpakan bencana pada orang itu hingga kematiannya."
"Mereka para ahli kitab menggali kuburan untuknya dan menguburkannya. Keesokan harinya bumi telah memuntahkan jasad orang itu ke permukaan."
"Mereka ahli kitab itu pun menggali kuburan kembali dan menguburkannya, tetapi keesokan harinya bumi kembali memuntahkan jasad orang itu. Lagi-lagi mereka menggali kuburan dan menguburkan jasad orang itu dan begitu pula keesokan harinya bumi memuntahkan kembali jasad tersebut. Akhirnya, mereka ahli kitab membiarkan jasad orang itu terbuang." (HR Muslim).
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa orang tersebut dianggap terkutuk karena dusta yang dilakukannya. Menurut penjelasan tersebut, ia bukanlah penulis wahyu sebagaimana yang diklaim. Penolakan bumi terhadap jasadnya disebut sebagai hukuman atas kebohongannya.
Kisah berikutnya menceritakan seseorang bernama Gorts bin al-Harts yang berniat membunuh Nabi Muhammad SAW.
Ketika ditanya mengenai rencananya, dia menjawab:
"Aku akan berkata padanya, berikan pedangmu. Jika dia (Nabi SAW) memberikannya kepadaku, maka kubunuh dengan pedang itu."
Gorts kemudian mendatangi Rasulullah SAW dan meminta pedang beliau. Nabi SAW memberikan pedang tersebut.
Namun, ketika pedang berada di tangannya, Gorts justru mengalami ketakutan hingga tangannya bergetar. Pedang yang dipegangnya pun terjatuh.
Rasulullah SAW kemudian bersabda:
حال الله بينك وبين ما تريد
"Allah SWT ada di antaramu dan apa yang kamu inginkan." (Al-Dur al-Mantsur)
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana rencana Gorts untuk menyerang Rasulullah SAW tidak berhasil.
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan kisah Utbah bin Abu Lahab, putra Abu Lahab, yang mempersiapkan diri untuk berangkat ke Syam.
Utbah disebut pernah berkata:
"Demi Tuhan, marilah kita pergi kepada Muhammad dan menyakiti dirinya."
Utbah juga pernah berbicara keras kepada Rasulullah SAW dan menyatakan akan menceraikan putri beliau, Ruqayyah, yang ketika itu belum pernah digaulinya.
Atas tindakan tersebut, Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah SWT:
"Ya Allah, kirimkan kepadanya salah satu dari anjing-anjing-Mu."
Setelah itu, Utbah memimpin sebuah kafilah dagang menuju Syam. Ketika rombongan berada di daerah bernama al-Ghadirah, tiba-tiba terdengar suara auman singa dari kejauhan.
Mengingat doa Nabi SAW, Utbah kemudian bertanya kepada rombongannya dengan ketakutan:
"Suara apa yang kita dengar?"
Unta-unta dalam kafilah tersebut menjadi ketakutan setelah mendengar auman singa. Tidak lama kemudian, seekor singa terlihat di belakang dataran tinggi.
Para anggota kafilah menyadari bahwa doa Rasulullah SAW disebut telah terkabul. Utbah pun ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri serta barang dagangannya.
Namun, singa tersebut kemudian menyerang Utbah. Dalam kisah yang dinukil dalam tafsir Ibnu Katsir, singa itu mencabik-cabik tubuh Utbah hingga akhirnya ia tewas. Sementara itu, singa tersebut tidak melukai unta maupun anggota rombongan lainnya dan kemudian menghilang.
Editor : Wahab Firmansyah