Begini Kata Analis soal Agunan Emiten Profitabel di Dunia Perbankan
Hingga kini, nilai kredit yang diberikan BMRI untuk mendukung penyelesaian akuisisi saham BYAN tersebut belum terungkap. Sementara itu, nilai pasar saham JARR dan PGUN yang dijadikan agunan diperkirakan mencapai sekitar Rp73 triliun, lebih besar daripada nilai akuisisi 30,25 persen saham BYAN.
Besarnya nilai transaksi gadai saham menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian sejumlah kalangan. Namun, nilai pasar saham yang dijaminkan tidak serta-merta mencerminkan besarnya kredit yang diberikan bank. Menurut Gede, nilai agunan perlu dilihat dalam kaitannya dengan jumlah pembiayaan dan mekanisme mitigasi risiko yang diterapkan.
"Dengan demikian, besarnya nilai saham yang dijaminkan justru dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan bagi kreditur," katanya sebagaimana dikutip dari Okezone.
Gede menilai kondisi keuangan JARR dan PGUN juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai kualitas saham yang dijadikan agunan. Menurutnya, sejumlah indikator, seperti kualitas aset, kesehatan keuangan debitur, kemampuan menghasilkan laba, dan nilai ekonomis agunan, relevan dalam analisis risiko kredit.
"Berdasarkan laporan keuangan JARR maupun PGUN yang dijaminkan ke BMRI, keduanya masih mencatatkan laba dan memiliki nilai aset yang cukup besar, mencapai triliunan rupiah, serta ekuitas yang kuat. Berdasarkan informasi yang saya baca dan yakini, Haji Isam juga merupakan pengusaha berpengalaman dan profesional," ujarnya.
Data keuangan JARR menunjukkan bahwa hingga akhir Juni 2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,76 triliun dan laba bersih Rp158,93 miliar. Perseroan juga mencatatkan total aset Rp4,09 triliun dengan ekuitas sebesar Rp2,02 triliun.
Meskipun penjualan mengalami penyesuaian dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, JARR tetap mencatatkan laba operasional sebesar Rp234,4 miliar dan EBITDA Rp325,3 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa perseroan masih membukukan laba operasional dan EBITDA positif.
Editor: Vitrianda Hilba Siregar