Raja Salman Mengasingkan Diri di Istana Gurun Selama 482 Hari Berturut-turut, Ada Apa?

Muhaimin, SINDONEWS
.
Kamis, 09 Desember 2021 | 13:53 WIB
Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, pemimpin Kerajaan Arab Saudi. (Foto: SPA/REUTERS)

Pada Agustus 2020, Saad al-Jabri, mantan pejabat tinggi intelijen Saudi yang dekat dengan Mohammed bin Nayef, menuduh MBS mengirim regu pembunuh ke Kanada untuk membunuhnya dua tahun sebelumnya. Namun, tuduhan itu dibantah MBS.

Dua minggu sebelum tanggal al-Jabri mengatakan MBS mencoba membunuhnya, sekelompok agen negara Saudi membunuh jurnalis pembangkang Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat kemudian menyimpulkan bahwa MBS kemungkinan memerintahkan pembunuhan terhadap Khashoggi.

Sebagai akibat dari pembunuhan Khashoggi, Presiden AS Joe Biden secara efektif menurunkan "pangkat" MBS, dengan mengatakan pada Februari bahwa rekan Biden adalah Raja Salman. Dengan logika itu, ketika MBS menjadi raja, dia akan menjadi setara secara diplomatik dengan presiden AS.

Terlepas dari reaksi internasional terhadap tindakan kerasnya, semua tanda menunjukkan MBS akan mulus naik takhta ketika Raja Salman meninggal suatu saat.

"Saya tidak berharap akan ada perlawanan," ujar Hakyel.

Editor : Aditya Nur Kahfi

Follow Berita iNews Bekasi di Google News

Halaman : 1 2 3 4
Bagikan Artikel Ini