Raja Salman Mengasingkan Diri di Istana Gurun Selama 482 Hari Berturut-turut, Ada Apa?

Muhaimin, SINDONEWS
.
Kamis, 09 Desember 2021 | 13:53 WIB
Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, pemimpin Kerajaan Arab Saudi. (Foto: SPA/REUTERS)

RIYADH, iNews.id - Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dari Arab Saudi telah mengasingkan diri di sebuah istana gurun selama 482 hari berturut-turut. 

Pengasingan diri sang raja menyalakan kembali kekhawatiran akan kesehatannya, sementara Putra Mahkota Mohammed bin Salman menunggu untuk naik takhta. Salman (85) menjadi raja pada 2015 setelah kematian saudara tirinya Raja Abdullah.

Rumor kesehatan yang buruk telah menghantuinya sejak itu. Dia dianggap menderita pra-demensia, menurut beberapa ahli, dan menjalani operasi kandung empedu pada Juli 2020. Keadaan kesehatannya yang sebenarnya adalah rahasia yang dijaga ketat.

Pada tahun 2015, pengacara untuk Royal Court Arab Saudi mengatakan kepada The Washington Post: "Raja pasti tidak menderita demensia atau jenis gangguan mental lainnya."

Pernyataan itu disampaikan setelah surat kabar Amerika Serikat tersebut melaporkan klaim penyakit seperti itu.

Menurut kantor berita Arab Saudi yang dikutip Business Insider, Rabu (8/12/2021), setelah operasi kandung empedu, Raja Salman terbang ke istana gurun di Neom—wilayah yang baru dikembangkan di Laut Merah—pada 12 Agustus 2020. "Untuk beristirahat dan bersantai," tulis media Saudi.

Saat terbang ke Neom waktu itu, Arab Saudi baru saja mengalami puncak wabah Covid-19. Raja Salman tetap di Neom sejak itu, memimpin rapat kabinet melalui tautan video.

“Dia berada di Neom karena itu sebenarnya lebih aman, karena membatasi akses kepadanya,” kata Bernard Haykel, pakar terkemuka politik Saudi di Universitas Princeton, kepada Business Insider.

"Mereka (Arab Saudi) sangat berhati-hati karena mereka ingin dia (Raja Salman) tetap hidup." imbuh Bernard.

Halaman : 1 2 3 4
Bagikan Artikel Ini