Sosok KH Muchtar Thabrani, Ulama Bekasi yang Mengubah Kampung Halaman Jadi Pusat Ilmu!
Suatu ketika seorang pedagang tempayan yang sedang memikul dagangannya bertemu dengan Syekh KH. Muchtar Thabrani, saat itu juga Syekh KH. Muchtar Thabrani pun memberi salam kepadanya, “Assalamu’alaikum … mudah-muudahan barokah…”.
Tidak berapa lama setelah perjumpaan itu, barang dagangan yang dipikulnya itu tiba-tiba saja habis terjual tidak seperti hari-hari biasanya.
Tetapi satu hari pedagang tersebut tidak menjumpai KH. Muchtar Thabrani, dan anehnya penjualan barang dagangannya tidak selaris hari kemarin. Karena penasaran, esoknya pedagang ini pun berangkat pagi-pagi sekali menuju kediaman KH. Muchtar, dengan harapan berjumpa dengan sang Kiyai dan mendapat ucapan salam dan doa berkah dari beliau.
Pedagang ini pun berdiri di depan kediaman Kiai, menunggu Kiai keluar dari rumahnya. Tidak lama keluarlah KH. Muchtar Thabrani dari rumahnya. Melihat ada seorang tamu berdiri di depan rumahnya, KH. Muchtar Thabrani memberi salam kepadanya, dengan ucapan seperti biasanya, “Assalamu’alaikum … mudah-muudahan barokah…” lalu mengajak tamu tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya.
Tetapi pedagang itu menolak dengan halus, dan mengatakan bahwa ia hendak berangkat keliling kampung untuk menjual barang dagangannya. Tak lama setelah itu, tak disangka barang dagangannya pun habis terjual dalam waktu yang tidak terlalu lama. Begitulah karomah ucapan salam beliau.
Lain lagi dengan seorang kaya yang juga murid KH. Muchtar Thabrani, setiap satu bulan sekali orang tersebut selalu menyediakan dua buah amplop berisi isi uang. Niatnya, amplop yang isinya lebih besar akan diberikan untuk istri mudanya, sedangkan amplop yang isinya lebih kecil akan diberikan pada KH. Muchtar Thabrani.
Ketika orang tersebut menemui KH. Muchtar Thabrani, justru malah amplop yang isinya lebih besarlah yang diberikan kepada KH. Muchtar Thabrani. Sementara amplop yang isinya lebih kecil malah diberikan pada istri mudanya. Kejadian itu terjadi berkali-kali, padahal niat awalnya tidak demikian.
Satu saat beliau pulang mengajar dari satu tempat bernama Kelapa Gading, di tengah perjalan pulang dari kejauhan beliau dihadang segerombolan perampok yang meminta seluruh harta bawaan beliau.
Namun beliau tetap tenang dan mengucapkan salam kepada segerombolan prampok tersebut. Para perampok itu pun menjawab salam beliau, dan anehnya tangan mereka seketika bergetar ketika KH. Muchtar Thabrani membagikan pisang kepada segerombolan perampok itu.
Setelah itu KH. Muchtar Thabrani pergi meninggalkan mereka, dan anehnya tak satu pun dari gerombolan prampok itu bisa menggerakan kakinya, semua hanya diam terpaku melihat beliau pergi.
KH. Muchtar Thabrani pun melanjutkan perjalanan pulang dengan lenggang kangkung. Begitu lah kehebatan dan keistimewaan salam.
Begitu banyak keistimewaan yang ada pada diri KH. Muchtar Thabrani, sampai-sampai ada satu orang laki-laki yang menderita impoten pun menemui beliau dan meminta didoakan agar penyakit impotennya dapat sembuh.
Saat itu KH. Muchtar Thabrani hanya menyuruh orang tersebut mengamalkan bacaan “Ya Qowwiy, Ya Matin”. Satu minggu kemudian orang tersebut datang lagi, mengabarkan bahwa penyakitnya sudah sembuh.
Editor : Wahab Firmansyah