Pengangguran Kabupaten Bekasi Tertinggi di Jabar, Lulusan SMK Jadi Sorotan
BEKASI, iNewsBekasi.id - Kabupaten Bekasi yang dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Jawa Barat ternyata masih menghadapi persoalan serius di sektor ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran di wilayah ini tercatat mencapai 8,78 persen, tertinggi di Jawa Barat.
Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di tengah banyaknya lowongan kerja yang tersedia di kawasan industri. Sementara itu, lulusan SMK yang diproyeksikan menjadi tenaga kerja siap pakai dinilai masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri modern.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, PT Jababeka Infrastruktur menggandeng pelaku industri, pemerintah daerah, serta sekolah melalui Forum Group Discussion (FGD) bertema peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) siswa SMK guna menekan angka pengangguran di Kabupaten Bekasi.
Forum tersebut dihadiri perwakilan perusahaan di kawasan Jababeka, Dinas Ketenagakerjaan, Bappeda, BPS, KCD3 Jawa Barat, kepala sekolah SMK, hingga Bursa Kerja Khusus (BKK).
Dalam forum itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi sorotan. Sebanyak 88,8 persen pengangguran lulusan SMA/SMK disebut belum pernah mengikuti pelatihan kerja. Selain itu, rata-rata lama sekolah masih setara kelas 1 SMA, sehingga dinilai belum sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi, Ida Farida, menyebut rendahnya kompetensi lulusan menjadi kendala utama penyerapan tenaga kerja.
“Perusahaan sering keluhkan matematika dasar SMK lemah, mental kerja belum matang, serta bahasa terbatas. Kita butuh reformasi kurikulum dari SD dengan penguatan STEM untuk lahirkan grand design kolaborasi multisektor,” kata Ida Farida dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
Sementara itu, Direktur PT Jababeka Infrastruktur, Didik Purbadi, menegaskan kawasan industri harus berperan aktif dalam pembangunan SDM.
“Kami tak hanya sediakan lahan, tapi bangun infrastruktur SDM via sistem informasi terintegrasi yang hubungkan sekolah, pemerintah, dan industri—seperti sukses program pemberdayaan karang taruna yang sudah hasilkan tenaga terampil di perusahaan kawasan,” tuturnya.
Koordinator KCD3 Jawa Barat, Rina Parlina, juga mendorong SMK lebih aktif menjalin kemitraan dengan industri melalui program Teaching Factory (TEFA), kelas industri, pemerataan kualitas sekolah, hingga program Sekolah Maung berbasis Gapura Panca Waluya untuk memperkuat karakter siswa.
Di sisi lain, perwakilan guru dari SMK 1 Cikarang, Haris Munbarzan, mengusulkan revitalisasi Forum Bursa Kerja Khusus (BKK) yang vakum sejak 2019. Ia juga mengusulkan skema magang terstruktur serta sistem rekrutmen kontrak sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan industri.
FGD tersebut menghasilkan tiga komitmen strategis. Pertama, pembentukan tim lintas sektor antara perusahaan, KCD, dan BKK guna meningkatkan kualitas SMK secara berkelanjutan. Kedua, pengarusutamaan isu pengangguran dalam APBD dan roadmap RPJMD 2029. Ketiga, penerapan model pendidikan berkarakter khas Jawa Barat.
Editor : Wahab Firmansyah