Menuju Indonesia Emas 2045, Revitalisasi Pendidikan Fokus pada Guru, Sekolah dan Teknologi
"Kalau sekolah-sekolah itu tidak segera ditangani, dampaknya terhadap mutu pendidikan akan berlangsung sangat panjang. Kita sudah belajar dari pandemi Covid-19 yang menyebabkan learning loss, dan jangan sampai kondisi itu terus berlanjut," katanya.
Abdul Mu'ti menambahkan Presiden Prabowo Subianto menargetkan seluruh sekolah di Indonesia direvitalisasi secara bertahap hingga 2028. Selain meningkatkan kualitas pendidikan, program tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat karena pembangunan dilakukan melalui mekanisme swakelola yang melibatkan warga sekitar.
Selain revitalisasi fisik, pemerintah mempercepat digitalisasi sekolah dengan menyalurkan Interactive Flat Panel (IFP), menyediakan laptop, memperluas akses internet, hingga melatih guru agar mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran.
"Gurunya kami latih, sekolah yang belum memiliki internet kami bantu internetnya, yang belum memiliki listrik kami bantu dengan panel tenaga surya. Jadi semuanya sudah dipersiapkan agar benar-benar dimanfaatkan untuk pembelajaran," katanya.
Berdasarkan hasil monitoring di berbagai daerah, mulai dari Papua, Nusa Tenggara Timur hingga Nias Utara, pemanfaatan teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan semangat belajar siswa sekaligus kualitas pembelajaran di kelas.
Pemerintah juga memperkuat pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai bagian dari kebijakan wajib belajar 13 tahun. Melalui kerja sama dengan Kementerian Desa, pemerintah menargetkan sedikitnya satu taman kanak-kanak di setiap desa, meningkatkan kompetensi guru PAUD melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), serta memperluas penerima Program Indonesia Pintar (PIP).
Abdul Mu'ti turut mengajak seluruh masyarakat menjaga hasil pembangunan sekolah yang dibiayai menggunakan anggaran negara.
Editor : Wahab Firmansyah