get app
inews
Aa Text
Read Next : Kemendikdasmen Siapkan Kebijakan Baru untuk Sekolah dengan Murid Kurang dari 100 Orang

Mendikdasmen Ungkap 3 Penyebab Banyak Sekolah Kekurangan Murid, Nomor 3 Paling Disorot

Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:20 WIB
header img
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti. Foto/Dikdasmen

JAKARTA, iNewsBekasi.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengungkapkan masih banyak sekolah jenjang SD hingga SMP di Indonesia yang mengalami kekurangan murid. Bahkan, sejumlah sekolah tercatat memiliki jumlah peserta didik di bawah 100 orang.

Pemerintah kini tengah memetakan persoalan tersebut dan menyiapkan solusi bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penggabungan (merger) sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit.

Abdul Mu'ti menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan banyak sekolah mengalami kekurangan murid.

1. Jumlah Anak Usia Sekolah Semakin Berkurang

Menurut Abdul Mu'ti, faktor pertama adalah menurunnya jumlah anak usia sekolah, terutama pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor yang kompleks.

"Yang pertama memang ada keterbatasan jumlah anak usia sekolah, khususnya anak-anak SD. Sekarang jumlah anak usia sekolah itu tidak cukup banyak dan penyebabnya tentu sangat-sangat kompleks ya, tapi intinya keterbatasan jumlah anak usia sekolah," kata Abdul Mu'ti di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

2. Banyaknya Sekolah SD Inpres yang Dibangun di Masa Orde Baru

Penyebab kedua berkaitan dengan kebijakan pembangunan sekolah dasar pada era Orde Baru melalui program SD Inpres. Program tersebut berhasil memperluas akses pendidikan, tetapi kini menyebabkan jumlah sekolah di sejumlah daerah menjadi sangat banyak.

Menurut Abdul Mu'ti, hampir setiap desa memiliki minimal satu SD Inpres. Bahkan, di beberapa wilayah terdapat lebih dari satu sekolah dasar dalam satu desa.

"Yang kedua adalah banyaknya sekolah-sekolah dasar yang memang dulu dibangun oleh pemerintah Pak Presiden Soeharto untuk menuntaskan buta aksara dan mengejar pemenuhan pendidikan dasar. Sehingga setiap desa itu minimal punya satu sekolah dasar, SD Inpres, yang sebelumnya sudah ada sekolah yang berdiri sebelumnya. Sehingga mungkin satu desa bisa memiliki lebih dari satu sekolah dasar. Sehingga memang jumlahnya menjadi sangat banyak," ujarnya.

3. Orang Tua Lebih Memilih Sekolah Swasta

Faktor ketiga adalah perubahan preferensi masyarakat, khususnya keluarga muda, yang kini lebih banyak memilih sekolah swasta dibanding sekolah negeri.

Menurut Abdul Mu'ti, sebagian orang tua menilai mutu pendidikan di sekolah swasta lebih baik. Selain itu, faktor lokasi sekolah yang lebih dekat dengan tempat tinggal juga menjadi pertimbangan.

"Memang ada tren, keluarga-keluarga muda khususnya, bahkan mungkin keluarga kelas menengah muda, itu cenderung untuk anaknya belajar di sekolah swasta. Alasannya berbagai macam. Saya sempat bertanya sebagiannya karena menganggap belajar di swasta itu mutunya lebih baik," katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen telah memulai pembahasan dengan Kemendagri guna merumuskan kebijakan yang komprehensif.

Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah menggabungkan sekolah-sekolah yang memiliki jumlah murid sangat sedikit. Namun, Abdul Mu'ti menegaskan kebijakan tersebut tidak bisa dilakukan secara instan karena berkaitan dengan penataan tenaga pendidik.

"Nah terkait dengan masalah ini, kami sudah ada pembicaraan awal dengan Pak Mendagri untuk mencari solusi yang komprehensif. Karena masalahnya tidak sekadar bagaimana sekolah-sekolah yang muridnya sedikit itu dimerger, tapi terkait dengan tugas guru. Karena kalau sekolahnya dimerger kan otomatis gurunya harus dimutasikan juga," ujarnya.

Pemerintah menargetkan keputusan mengenai penanganan sekolah dengan jumlah siswa yang minim dapat ditetapkan sebelum tahun ajaran baru mendatang.

"Tapi paling tidak nanti pada tahun ajaran baru tahun depan, sudah ada keputusan mengenai bagaimana sekolah-sekolah yang muridnya sangat sedikit," pungkasnya.

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut